Here I am waiting, I'll have to leave soonWhy am I holding on?We knew this day would come, we knew it all alongHow did it come so fast?
Pukul 21.00 Waktu Indonesia Barat, lirik lagu daylight dari Maroon 5 terdengar sangat jelas. Bukan sedang memutar playlist lagu dari Winamp, tetapi terdengar dari suara handphone yang berarti ada telepon masuk. Bukan dari kantor, teman kampus, atau orang iseng melainkan dari Meine Liebe yang berarti MY LOVE dalam Bahasa Inggris. Rutinitas tiap malam yang saya lakukan dengan calon istri saya, karena saya tidak pernah memintanya untuk menjadi pacar saya. Hal ini kami lakukan karena kami menjalani LDR. Pembicaraan dibuka dengan salam, dilanjutkan dengan pertanyaan: Lagi apa? Sudah makan? Hari ini gimana?. Kemudian membahas hal menarik.
Sedang asik berbicara, mama datang keluar dari kamarnya kemudian menghampiri saya dan bertanya, "sedang telponan dengan siapa nak?". "Dengan imel", sahut saya. Entah kenapa terlontar kata, "kamu mau ngobrol sama mama?" sesaat setelah mama menanyakan hal tadi. Tanpa ragu ia menjawab "deg-degan yang, belom berani". "Kapan lagi kalo gak dicoba" timpal saya. "Ok deh kalo gitu", menjawab dengan nada penuh keyakinan dari dia. Saya berikan langsung telpon saya kepada mama, dan saya berlalu ke kamar meninggalkan percakapan dia dengan mama. Perbincangan tidak berlangsung lama, karena mama ingin istirahat dan memberikan handphone kepada saya. Saya bertanya apa saja yang diobrolkan tapi yang terpenting dia menjawab, "mama mengundang aku datang ke pernikahan uni". Ya saya kaget bukan main, itu bukan hanya mama meminta dia untuk datang ke pernikahan uni, panggilan untuk kakak perempuan dari suku minang, tetapi secara tidak langsung mama ingin bertemu dengan dia.
Dulu, jauh sebelum rasa sayang sama dia ada. Modus dan PHP tujuan awal. Tapi waktu dan keadaan merubah semuanya. Ditambah rasa sabar dan yakin dari dia sehingga sampai saat ini.
Perbincangan ditelpon kami lanjutkan dengan membahas waktu untuk dia bertemu dengan orang tua saya. "Kamu harus minta izin denga om dan orang tua saya", kata dia yang juga ingin bertemu dengan orang tua saya. "Ok, tanggal 21 aku akan ke Bandung", jawabku yang menginginkan hal itu cepat terjadi. Tiga minggu dari saat itu saya akan menemuinya di Bandung. Berkendara dari loket ke loket hanya mencari tiket bis untuk sampai ke Bandung dan akhirnya dapat di loket bis hampir di ujung kota.
Sebelum saya berangkat ke Bandung, dia meminta saya untuk menelepon ibunya yang ada di kampung untuk minta izin terlebih dahulu. "Siapa takut?", Itu yang ada di benak saya saat dia memintanya. Ya saya menyebutnya memberanikan diri, kalo dia bilang sih nekat. Apapun yang dibilang, saya tetap menelepon ibunya."Assalamu'aalaikum""Wa'alaikumsalam""Umak ini Yogi""Oh iya yogi""Umak gimana kabarnya? Sehat? Keluarga sehat semua Umak?""Alhamdulillah sehat Yogi, semuanya juga sehat""Lagi apa Umak?""Lagi duduk di teras sama Ayah, mati lampu soalnya""Oh gitu Umak. Oh iya Umak, Yogi mau minta izin ke Umak. Mau mengajak Imel ke Lampung, untuk ketemu dengan orang tua Yogi. Umak memberikan izin?""Ya Umak memberikan izin, tapi dengan catatan harus ada yang menemani Imel, karena tidak baik perempuan mendatangi keluarga dari pihak laki-laki sendirian""Iya umak, kemarin juga ini sudah kami bahas, kalo Imel kesini harus ada temannya Umak. Niat Yogi serius Umak sama Imel. Nanti juga Yogi mau ke Bandung lagi minta izin sama Omnya Imel juga untuk ngajak Imel kesini""Iya yogi, Umak terserah gimana Imel aja. Umak mah setuju-setuju aja sama pilihan Imel. Oh ya, kapan Yogi yang ketemu Umak ini?""Diusahakan tahun depan Umak""Kenapa tahun depan? Alangkah lamanya?""Hehehe, iya Umak, nabung dulu""Yaudah kalo gitu. Yogi, udah dulu telponnya, hp Umak mau abis batrenya""Iya Umak, assalamu'alaikum""Wa'alaikumsalam"Ya, Dia itu adalah Imel, Imelda Sasti. Setalah saya berbicara dengan Umak, saya menelpon dia dan menceritakan semua perbincangan saya dengan Umaknya.
Tanggal 20 Juni 2014 malam, saya naik bis menuju Bandung. Selama perjalanan membosankan di dalam bis ditemani pria mendengkur di sebelah, dia selalu menemani perjalananku via handphone. Seperti biasa, hmmm untuk yang kedua kalinya dia menjemput saya di tempat saya turun dari bis. Wajah cantik yang memamerkan senyum menjemput hangat kehadiran saya. Senyum indah menarik lawan jenis untuk ingin memandang saya lontarkan untuk dia. Ya, inilah pertemuan kami yang kedua di kota Bandung.
22 Juni 2014. Tepat pada tanggal ini. Sejarah terukir, sejarah yang saya buat, sejarah untuk diri saya sendiri. Proklamasi. Belum, rancangan menjelang proklamasi. Saya menemui Omnya setelah solat asar di masjid dekat villa keluarga Omnya. Om yang menjadi sahabat perantauan Imel sejak SMA."Mak, mau minta ijin sama mamak, mau ngajak Imel ke Lampung. Mama minta Imel ke Lampung""Ya boleh aja, saya gak ngelarang. Asal ada yang menemani Imel ke Lampung. Sudah izin dengan orang tuanya di kampung?""Sudah Mak, pesan Umak, sama dengan yang disampaikan Mamak barusan""Yaudah kalo gitu, Mamak mengizinkan"Kemudian kami kembali dengan kegiatan masing-masing.
23 Juni 2014. Bisa saya bilang sebagai Hari Proklamasi. Hari yang sudah disusun sebelum saya datang ke Bandung. Saya dan Imel pergi ke suatu tempat wisata di daerah Lembang, Floating Market. Dalam perjalanan menuju ke sana, saya sempat membentak Imel karena dia melihat isi dalam tas, yang ada sebuah properti untuk hari itu. Ya saya takut terbongkar dong, kalo terbongkar gak seru lagi. Jadi garing. Saya mengajak Imel naik sepeda air di Floating Market. Awalnya dia gak berani, tapi saya paksa. Karena rencana ini harus berhasil. Saya membawa dia ke tengah danau buatan di sana. Disinilah sejarah itu dimulai."Kita pacaran gak sih yang?""Gak, kita kan gak pacaran. Kita kan main-main"Lanjut goes sepeda lagi, dan kemudian."Kamu serius gak sih sama aku?""Kok kamu nanya gitu?""Ya aku nanya. Kamu serius gak sih sama aku?""Emang keliatan aku main-main ya? Kalo aku main-main, ngapain aku capek-capek bawa kamu ke rumah ngenalin ke orang rumah dan temen-temen""Kita sih emang gak pacaran. Kamu tau aku serius sama kamu, Aku juga tau kamu serius sama aku. Kamu mau gak jadi istri aku?"Imel hanya mengangguk."Jawab dong, jangan cuma ngangguk""Harus ya? Pipi aku udah merah nih""Ya harus dijawab dong" sangat memaksa ingin dijawab"Iya aku mau""Iya mau apa?" lagi-lagi memaksa"Iya aku mau jadi istri kamu", kemudian Imel membalas BBM dari temannya, Iti yang sempat pending."Liat apa tadi di tas?""Gak liat apa-apa, cuma ngambil hp doang"Saya mengeluarkan cincin dari dalam tas dan berkata,"Semoga muat ya sama kamu"Kebiasaan wanita, kalo dalam hal ini pasti melting dan menyebabkan muka merah. Cincin yang saya pake untuk melamar dia secara pribadi itu, saya persiapkan dua minggu sebelum saya berangkat ke Bandung.
Malamnya, sepulang dari masjid Omnya menghampiri saya menanyakan keseriusan saya."Yogi, jadi ngajak Imel ke Lampung?""Jadi, mak""Ya pesan Mamak, seperti kemarin sore. Imel harus ada temennya""Iya mak""Apa kamu serius sama Imel?""InsyaAllah serius Mak"Omnya langsung memberikan sebuah nasihat yang melebihi panjangnya kereta pengangkut batu bara hehehhe. Memberikan nasihat bagaimana membina keluarga, mendidik anak, sampai menjemput rezeki. Sebuah lampu hijau, jalan terang dari keluarganya yang mengizinkan saya menikahi Imel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih telah membacanya