Minggu, 24 Agustus 2014

THINK!!!

"Kapan Nikah?"
Pasti suka ditanyain beginian kan saat berkumpul dalam saat acara? Pertanyaan ini biasanya dilayangkan kepada pria atau wanita yang sudah menginjak usia dibilang sudah cukup pantas untuk menikah. Kesel, Bete pasti aja rasa itu keluar saat ditanya. Ngaku!!! Sebenernya kalimat tanya "Kapan nikah?" itu sebagian besar bahan bully, kadang memotivasi, dan sebagian kecil sebagai kalimat tanya pemanis. Kadang ada beberapa faktor kenapa manusia ciptaan Tuhan tidak kunjung menikah. Ada yang nunggu mapan dengan merintis karir, ingin menikmati masa muda dengan uangnya sebelum menikah, bahkan ada yang memuaskan dirinya untuk traveling, sakit hati karena masa lalu, restu orang tua, dan yang terakhir karena jodoh tak kunjung datang. Yang terakhir itu kasian banget. Tidak banyak dan tidak sedikit juga yang menyegerakan menikah, kalo kata orang tua menikah muda.

Karir
Entah menjadi hamba perusahaan atau merintis usaha. Itulah karir. Salah satu alasan makhluk yang tercipta dari tanah menunda pernikahannya. Banyak yang berpikir kalau belum mapan anak istri mau makan apa? Tetep makan nasi jawabannya. "Biaya nikah kan mahal, ngumpulin uang dulu". Biaya nikah mah gak mahal, Rp50 ribu di KUA dan Rp600 ribu kalo manggil penghulu. Terus yang mahal apa? Gaya hidup yang menyebabkan pelaksana nikah saat membuat resepsi besar-besaran dan ingin terlihat mewah. Itu terserah mereka. Karena nikah merupakan suatu pilihan bukan kewajiban. Tapi yang perlu diingat bahwa, kehidupan setelah menikah itu jauh lebih mahal.

Apapun Bisa Dilakukan Sebelum Menikah
Kalau sudah menikah tentunya apapun yang dilakukan harus memikirkan anak dan istri, serta urusan dapur. Kalau belum menikah banyak yang beranggapan apapun bisa dilakukan. Ya benar. Apapun bisa dilakukan karena hanya memikirkan diri sendiri atau berbohong dengan pacar-yang-cerewet-kalau-ada biar bisa melakukan apapun yang diinginkan. Menghabiskan waktu bersama teman. Pergi traveling bersama teman-teman. Mengunggah kegiatan yang menyenangkan di sosial media. Apapun itu, yang jelas menyenangkan.

Restu Orang Tua
Kalo ini faktor yang gak bisa dibantah sebagai anak. Mau jadi malin kundang? Tentu tidak. Ada orang tua yang menginginkan anaknya berkarir lalu mapan dulu sebelum menikah. Memangnya parameter mapan itu seperti apa sih? Saya gak tau. Di tanah air saya ini, terkadang orang tua tidak merestui anaknya karena perbedaan suku atau suku yang dianggap minus. Ada juga yang tidak merestui karena beda keyakinan. Tetapi, ada orang tua yang menginginkan anaknya segera menikah. Apapun itu, sebelum melakukan pernikahan ada baiknya kita meminta restu orang tua. Walaupun terkadang alot meminta restu dari orang tua, itu tergantung bagaimana cara anak membuat dirinya terlihat mampu bertanggung jawab membina keluarga.

Jodoh Tak Kunjung Datang
Orang jaman sekarang sih bilangnya jomblo, itu kasar. Saya buat halus dengan Jodoh Yang Tak Kunjung Datang. Pacaran lama-lama, ngelebihin angsuran motor atau mobil. Bisa putus. Baru bertemu sebentar, kemudian pacaran, besoknya nikah. Ada. Permasalahannya, beberapa orang yang jodohnya tak kunjung datang itu karena masih ingin bersenang-senang dengan temannya atau mereka kurang gigih untuk mengejar jodoh masing-masing. Takut dengan tingkat ekonomi yang berbeda. Status sosial berbeda. Atau mungkin dia terlalu baik untuk kamu.

Apapun itu, semuanya pilihan. Menikah bukan suatu kewajiban. Terserah. Tapi apa gak kepengen? Yang terpenting kamu punya nyali untuk menikah. THINK!!!

Catatan:
1. Ditulis dengan kesadaran 100%
2. Ditulis dengan keadaan belum menikah
3. Ditulis tanpa melakukan penelitian, hanya melihat lingkungan sekitar

Rabu, 06 Agustus 2014

Who Is He?

Memutar kembali ke kehidupan saat pertama kali kuliah. Tepatnya 7 tahun yang lalu. Kehidupan setiap hari yang saya lakukan tidak jauh dari hanya menghabiskan uang orang tua untuk bersenang-senang. Kehidupan hedonisme sangat melekat pada diri saya. Tidak memiliki angan dan asa. Tidak terfikir mempunyai cita. Yang ada dalam benak saya saat itu, bagaimana saya bisa bersenang-senang dan bisa menyelesaikan studi selama 4 tahun. Lalu selanjutnya tak terfikir apa yang akan saya lakukan kecuali hanya bekerja. Tahun pertama saya mengikuti SPMB (dulu namanya itu), saya tidak mampu membuat orang tua saya bangga. Saya tidak lolos SPMB. Menjadi bahan olokkan di sekitar pergaulan dan dalam rumah. Dibodoh-bodohkan. Menghabiskan banyak uang untuk bimbelpun tidak ada hasil apa-apa. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar kuliah Non-Reguler di satu-satunya Universitas Negeri tempat saya lahir. Lolos sih, tapi tidak membuat orang tua saya bangga. Biaya SPP yang mahal. Biaya pergaulan yang selalu minta, marah jika tidak diberi.

Satu tahun berikutnya saya ikut SNMPTN (tiba-tiba namanya berubah, tidak berarti apa-apa). Saya memilih jurusan yang sama dengan tahun sebelumnya, Teknik Elektro. Tanpa berharap lolos seleksi. Hanya iseng-iseng, kalau masuk Alhamdulillah. Dan ternyata saya lolos seleksi. Cukup membanggakan buat kedua orang tua saya. Setidaknya mengurangi beban kuliah dan uang nakal bisa makin bertambah. Semester 1 dan 2 merupakan masa mencekam dimana semua anak baru menganggap "masuk kandang macan kita". Buat saya tidak. Terlahir penuh kesombongan dalam diri, membuat saya tidak tunduk pada peraturan senior. Siapa sangka saya akan berkelahi dengan senior.

Hari demi hari. Minggu demi minggu. Bulan demi bulan. Kaki ini mampu menginjak semeseter 3 dengan IPK tidak mencapai 3. Kenapa? Nilai saya banyak yang mengulang karena pergi hangout, pacaran lintas fakultas, merupakan hal terpenting yang harus saya lakukan. Tidak dipungkiri, saya mencederai cita lulus dengan 4 tahun. Tak hanya itu, saya mencoba mengikuti organisasi kiri. Yang saya anggap, organisasi keren, saya masih bisa hidup hedonisme. Meninggalkan amanah di Himpunan Jurusan yang saat itu ditinggal para pimpinannya karena ego pribadi.  Hanya 3 bulan saya bertahan di organisasi kiri. Bukan tidak betah. Tapi saya diselamatkan. Kenapa? Pola pikir saya diubah. Bagaimana mencintai organisasi dijalan yang benar menurut logika saya. Saya kembali ke Himpunan untuk membantu organisasi ini tetap jalan. Dia, sang Ketua Himpunan, yang mampu merubah pola pikir saya. Kata demi kata yang dia ucapkan masuk ke dalam pori-pori kemudian diterjemahkan ke otak saya dengan baik. Hedonisme? Tetap. Berkurang? Iya. Siapa sangka saya akan menjadi Ketua Pelaksana Malam Keakraban. Nyaris di Drop Out. Tapi, saya banyak mengenal kehidupan sosial yang harus dilakukan setiap insan manusia. Bagaimana dengan IPK? Jangan heran, IPK saya tetap. Saya masih suka menyepelekan mata kuliah.

Memasuki semester 5 saya tidak mempunyai keinginan untuk mecalonkan diri menjadi Ketua Himpunan. Tapi saya dicalonkan menjadi Wakil Ketua Himpunan dari Organisasi Kiri yang dulu saya tapaki. Tenang saja, dalam pemilihan saya kalah. Saya tidak terlalu mengharapkannya. Apakah saya masih ikut organisasi? Iya. Khotibul Umam Fahmi, disapa Umam, Mantan Ketua Himpunan, Orang yang membawa saya menemui logika baik saya meminta saya untuk ikut bersamanya di BEM Universitas. Dia menjadi menteri, saya menjadi stafnya. Di waktu inilah, perubahan besar dalam hidup saya berubah. Mengejar nilai-nilai saya yang tertinggal. Alhasil mata kuliah tidak ada yang mengulang dan IPK naik drastis di atas 3,xx. Bagaimana dengan organisasi? Sangat lancar. Menjadi ketua pelaksana dalam rangkaian acara Ramadhan. Wakil ketua pelaksana dalam pengabdian masyarakat. Salah satu staf yang sangat diandalkan. Sebagai delegasi ke Batam dalam acara yang diadakan Kemenpora. Itu baru di Bem Universitas. Lantas bagaimana di Himpunan? Awalnya saya menjadi anggota biasa. Lalu 2 bulan sebelum kepengurusan demisioner saya diangkat menjadi Kepala Departemen Kominfo menggantikan Kepala Departemen sebelumnya. Dalam satu tahun, dua organisasi saya geluti. Kehidupan mahasiswa yang sangat menarik. Yang tidak saya sangka. Begitu saya sangat mencintai organisasi dan kuliah. Setelah demisioner dari kepengurusan. Saya dapat mengikuti KKN bersama teman-teman angkatan saya yang tegolong rajin. Bahkan saya berpikir untuk tidak mengikuti kembali jejak Umam, untuk kembali ke Bem Universitas. Saya hanya menginginkan meneruskan cita saya untuk lulus dalam 4 tahun.

Namun, saya diplot oleh Umam untuk menjadi salah satu kepala dinas di Bem Fakultas. Awalnya tidak ingin, tapi mau tidak mau, harus saya terima karena "Amanah tidak bisa ditolak, tidak bisa juga diminta". Amanah ini hanya berlangsung selama satu tahun dan kemudian saya berniat untuk lulus cepat tidak mungkin 4 tahun karena sudah lewat. Selain itu saya juga menjadi asisten laboratorium. Berakhirnya kepengurusan di BEM Fakultas, berakhir juga semester 8. Saya berencana melanjutkan cita-cita saya dan orang tua. Tapi lagi-lagi, saya mendapat amanah dari Presiden Mahasiswa terpilih. Saya menolak. Lagi-lagi, Umam, yang membujuk saya untuk menerima amanah tersebut karena permintaan Presiden Mahasiswa. Entah kenapa saya tidak bisa menolak permintaan dari sahabat dan guru saya ini. Saya menerima amanah menjadi Menteri Luar Negeri selama setahun. Cita-cita untuk lulus? Berjalannya organisasi membawa saya bisa membagi waktu untuk melaksanakan skripsi. Saya bisa melaksanakan seminar usul di semester 10. Semester yang menyelesaikan organisasi juga. Tidak banyak sejarah yang bisa saya catat saat itu. Hanya menjadi Ketua Pengawas Eksternal Seleksi CPNSD Kemenkumham 2012 Lampung dengan SK yang ditandatangani Menkumham dan kembali menggaungkan nama Aliansi BEM yang sempat hilang.

Menyelesaikan organisasi membuat saya kembali meneruskan skripsi saya yang saya tunda beberapa bulan. Namun, ditengah perjalanan saya cekcok dengan ayah. Beliau selalu menanyakan kapan saya akan menyelesaikan skripsi. Kuping terasa panas mendengar kata-kata dari ayah adalah sebuah ketidaknyamanan berada dalam rumah. Sampai akhirnya ayah saya tidak mau membantu mendanai skripsi saya. Saya putar otak bagaimana caranya menyelesaikan skripsi saya tanpa bantuan ayah saya sedangkan saya membutuhkan dana banyak. Tawaran dari Dosen, yang dulu saya sebagai asistennya datang. Beliau meminta saya untuk antar jemput anaknya. Namun, honor tiap bulan yang saya terima tidak cukup untuk membantu saya. Saya meminjam uang uni untuk menyelesaikan skripsi. Di saat saya sedang di Jakarta, sedang membeli salah satu alat. Saya mendapat telpon dari sahabat saya, Umam.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Lagi dimana Gi?"
"Lagi di Jakarta, ada apa?"
"Kapan pulang? Ini ada tawaran gabung di kantor. Lumayan untuk menyelesaikan skripsi"
"Lusa mam"
"Ok ditunggu ya"
"OK"

Percakapan singkat, namun penuh makna. Membuat saya terjun ke dunia politik sungguhan. Bukan daftar sebagai Caleg. Melainkan menjadi Tim Sukses salah satu Calon Gubernur di propinsi saya. Dua minggu bekerja menghasilkan pundi-pundi yang cukup untuk menyelesaikan skripsi, tapi lagi-lagi harus tertunda karena ditawari sebagai karyawan tetap dan melanjutkan menjadi Timses sampai tahapan akhir. Dunia politik sebenernya dunia yang saya benci. Awalnya malas untuk berorganisasi. Dianggap mampu, kemudian diberi amanah. Sampai akhirnya menapaki jalan politik yang sebenarnya.

Teringat kata-kata guru SMP yang mengaku dirinya seorang peramal "kamu besar nanti akan jadi seorang pejabat". Teringat sepotong kalimat dari guru SMA saat perpisahan "udah kayak pejabat aja tampilan kamu". Masa depan tidak akan ada yang tau seperti apa. Tapi, saya tidak memiliki cita menjadi seorang pejabat karena saya tau bagaimana caranya untuk menjadi pejabat. Saya takut tidak amanah jika itu takdir saya.

Umam, bukan cuma sekedar teman, iya seperti sahabat, keluarga, bahkan guru. Dia yang mengajarkan saya untuk amanah dengan apa yang diberikan. Mengajari saya bertanggung jawab. Walaupun saat saya menyelesaikan tulisan ini saya belum wisuda juga. Banyak yang bilang untuk urusan ini saya tidak bisa bertanggung jawab. Tapi saya punya jawaban tersendiri. Jika saya wisuda tepat waktu, saya tidak bisa mendapatkan pengalaman hidup yang berarti seperti ini. Ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Umamlah yang mengajarkan hidup ini adalah sebuah pilihan. Tergantung bagaimana kita bisa bertanggung jawab. Tanpa disadari, Umam juga telah membawa saya bisa lebih dekat dengan Tuhan saya, Allah SWT. Umam orang yang punya pendirian tetap. Penyabar, selalu menjadi penengah saat terjadi konflik, dan dia akan jujur jika tidak ada yang disukainya. Saya percaya, dia mampu mewujudkan cita dan cintanya. Terima kasih atas Hidayah yang Allah berikan melalui dirimu sahabat. Terima kasih atas ilmu dan pengalaman yang sangat bermnafaat ini.

Minggu, 06 Juli 2014

Akhirnya Nekat Juga

Here I am waiting, I'll have to leave soonWhy am I holding on?We knew this day would come, we knew it all alongHow did it come so fast?
Pukul 21.00 Waktu Indonesia Barat, lirik lagu daylight dari Maroon 5 terdengar sangat jelas. Bukan sedang memutar playlist lagu dari Winamp, tetapi terdengar dari suara handphone yang berarti ada telepon masuk. Bukan dari kantor, teman kampus, atau orang iseng melainkan dari Meine Liebe yang berarti MY LOVE dalam Bahasa Inggris. Rutinitas tiap malam yang saya lakukan dengan calon istri saya, karena saya tidak pernah memintanya untuk menjadi pacar saya. Hal ini kami lakukan karena kami menjalani LDR. Pembicaraan dibuka dengan salam, dilanjutkan dengan pertanyaan: Lagi apa? Sudah makan? Hari ini gimana?. Kemudian membahas hal menarik. 
Sedang asik berbicara, mama datang keluar dari kamarnya kemudian menghampiri saya dan bertanya, "sedang telponan dengan siapa nak?". "Dengan imel", sahut saya. Entah kenapa terlontar kata, "kamu mau ngobrol sama mama?" sesaat setelah mama menanyakan hal tadi. Tanpa ragu ia menjawab "deg-degan yang, belom berani". "Kapan lagi kalo gak dicoba" timpal saya. "Ok deh kalo gitu", menjawab dengan nada penuh keyakinan dari dia. Saya berikan langsung telpon saya kepada mama, dan saya berlalu ke kamar meninggalkan percakapan dia dengan mama. Perbincangan tidak berlangsung lama, karena mama ingin istirahat dan memberikan handphone kepada saya. Saya bertanya apa saja yang diobrolkan tapi yang terpenting dia menjawab, "mama mengundang aku datang ke pernikahan uni". Ya saya kaget bukan main, itu bukan hanya mama meminta dia untuk datang ke pernikahan uni, panggilan untuk kakak perempuan dari suku minang, tetapi secara tidak langsung mama ingin bertemu dengan dia.
Dulu, jauh sebelum rasa sayang sama dia ada. Modus dan PHP tujuan awal. Tapi waktu dan keadaan merubah semuanya. Ditambah rasa sabar dan yakin dari dia sehingga sampai saat ini. 
Perbincangan ditelpon kami lanjutkan dengan membahas waktu untuk dia bertemu dengan orang tua saya. "Kamu harus minta izin denga om dan orang tua saya", kata dia yang juga ingin bertemu dengan orang tua saya. "Ok, tanggal 21 aku akan ke Bandung", jawabku yang menginginkan hal itu cepat terjadi. Tiga minggu dari saat itu saya akan menemuinya di Bandung. Berkendara dari loket ke loket hanya mencari tiket bis untuk sampai ke Bandung dan akhirnya dapat di loket bis hampir di ujung kota. 
Sebelum saya berangkat ke Bandung, dia meminta saya untuk menelepon ibunya yang ada di kampung untuk minta izin terlebih dahulu. "Siapa takut?", Itu yang ada di benak saya saat dia memintanya. Ya saya menyebutnya memberanikan diri, kalo dia bilang sih nekat. Apapun yang dibilang, saya tetap menelepon ibunya."Assalamu'aalaikum""Wa'alaikumsalam""Umak ini Yogi""Oh iya yogi""Umak gimana kabarnya? Sehat? Keluarga sehat semua Umak?""Alhamdulillah sehat Yogi, semuanya juga sehat""Lagi apa Umak?""Lagi duduk di teras sama Ayah, mati lampu soalnya""Oh gitu Umak. Oh iya Umak, Yogi mau minta izin ke Umak. Mau mengajak Imel ke Lampung, untuk ketemu dengan orang tua Yogi. Umak memberikan izin?""Ya Umak memberikan izin, tapi dengan catatan harus ada yang menemani Imel, karena tidak baik perempuan mendatangi keluarga dari pihak laki-laki sendirian""Iya umak, kemarin juga ini sudah kami bahas, kalo Imel kesini harus ada temannya Umak. Niat Yogi serius Umak sama Imel. Nanti juga Yogi mau ke Bandung lagi minta izin sama Omnya Imel juga untuk ngajak Imel kesini""Iya yogi, Umak terserah gimana Imel aja. Umak mah setuju-setuju aja sama pilihan Imel. Oh ya, kapan Yogi yang ketemu Umak ini?""Diusahakan tahun depan Umak""Kenapa tahun depan? Alangkah lamanya?""Hehehe, iya Umak, nabung dulu""Yaudah kalo gitu. Yogi, udah dulu telponnya, hp Umak mau abis batrenya""Iya Umak, assalamu'alaikum""Wa'alaikumsalam"Ya, Dia itu adalah Imel, Imelda Sasti. Setalah saya berbicara dengan Umak, saya menelpon dia dan menceritakan semua perbincangan saya dengan Umaknya. 
Tanggal 20 Juni 2014 malam, saya naik bis menuju Bandung. Selama perjalanan membosankan di dalam bis ditemani pria mendengkur di sebelah, dia selalu menemani perjalananku via handphone. Seperti biasa, hmmm untuk yang kedua kalinya dia menjemput saya di tempat saya turun dari bis. Wajah cantik yang memamerkan senyum menjemput hangat kehadiran saya. Senyum indah menarik lawan jenis untuk ingin memandang saya lontarkan untuk dia. Ya, inilah pertemuan kami yang kedua di kota Bandung. 
22 Juni 2014. Tepat pada tanggal ini. Sejarah terukir, sejarah yang saya buat, sejarah untuk diri saya sendiri. Proklamasi. Belum, rancangan menjelang proklamasi. Saya menemui Omnya setelah solat asar di masjid dekat villa keluarga Omnya. Om yang menjadi sahabat perantauan Imel sejak SMA."Mak, mau minta ijin sama mamak, mau ngajak Imel ke Lampung. Mama minta Imel ke Lampung""Ya boleh aja, saya gak ngelarang. Asal ada yang menemani Imel ke Lampung. Sudah izin dengan orang tuanya di kampung?""Sudah Mak, pesan Umak, sama dengan yang disampaikan Mamak barusan""Yaudah kalo gitu, Mamak mengizinkan"Kemudian kami kembali dengan kegiatan masing-masing.
23 Juni 2014. Bisa saya bilang sebagai Hari Proklamasi. Hari yang sudah disusun sebelum saya datang ke Bandung. Saya dan Imel pergi ke suatu tempat wisata di daerah Lembang, Floating Market. Dalam perjalanan menuju ke sana, saya sempat membentak Imel karena dia melihat isi dalam tas, yang ada sebuah properti untuk hari itu. Ya saya takut terbongkar dong, kalo terbongkar gak seru lagi. Jadi garing. Saya mengajak Imel naik sepeda air di Floating Market. Awalnya dia gak berani, tapi saya paksa. Karena rencana ini harus berhasil. Saya membawa dia ke tengah danau buatan di sana. Disinilah sejarah itu dimulai."Kita pacaran gak sih yang?""Gak, kita kan gak pacaran. Kita kan main-main"Lanjut goes sepeda lagi, dan kemudian."Kamu serius gak sih sama aku?""Kok kamu nanya gitu?""Ya aku nanya. Kamu serius gak sih sama aku?""Emang keliatan aku main-main ya? Kalo aku main-main, ngapain aku capek-capek bawa kamu ke rumah ngenalin ke orang rumah dan temen-temen""Kita sih emang gak pacaran. Kamu tau aku serius sama kamu, Aku juga tau kamu serius sama aku. Kamu mau gak jadi istri aku?"Imel hanya mengangguk."Jawab dong, jangan cuma ngangguk""Harus ya? Pipi aku udah merah nih""Ya harus dijawab dong" sangat memaksa ingin dijawab"Iya aku mau""Iya mau apa?" lagi-lagi memaksa"Iya aku mau jadi istri kamu", kemudian Imel membalas BBM dari temannya, Iti yang sempat pending."Liat apa tadi di tas?""Gak liat apa-apa, cuma ngambil hp doang"Saya mengeluarkan cincin dari dalam tas dan berkata,"Semoga muat ya sama kamu"Kebiasaan wanita, kalo dalam hal ini pasti melting dan menyebabkan muka merah. Cincin yang saya pake untuk melamar dia secara pribadi itu, saya persiapkan dua minggu sebelum saya berangkat ke Bandung. 

Malamnya, sepulang dari masjid Omnya menghampiri saya menanyakan keseriusan saya."Yogi, jadi ngajak Imel ke Lampung?""Jadi, mak""Ya pesan Mamak, seperti kemarin sore. Imel harus ada temennya""Iya mak""Apa kamu serius sama Imel?""InsyaAllah serius Mak"Omnya langsung memberikan sebuah nasihat yang melebihi panjangnya kereta pengangkut batu bara hehehhe. Memberikan nasihat bagaimana membina keluarga, mendidik anak, sampai menjemput rezeki. Sebuah lampu hijau, jalan terang dari keluarganya yang mengizinkan saya menikahi Imel.