Memutar kembali ke kehidupan saat pertama kali kuliah. Tepatnya 7 tahun yang lalu. Kehidupan setiap hari yang saya lakukan tidak jauh dari hanya menghabiskan uang orang tua untuk bersenang-senang. Kehidupan hedonisme sangat melekat pada diri saya. Tidak memiliki angan dan asa. Tidak terfikir mempunyai cita. Yang ada dalam benak saya saat itu, bagaimana saya bisa bersenang-senang dan bisa menyelesaikan studi selama 4 tahun. Lalu selanjutnya tak terfikir apa yang akan saya lakukan kecuali hanya bekerja. Tahun pertama saya mengikuti SPMB (dulu namanya itu), saya tidak mampu membuat orang tua saya bangga. Saya tidak lolos SPMB. Menjadi bahan olokkan di sekitar pergaulan dan dalam rumah. Dibodoh-bodohkan. Menghabiskan banyak uang untuk bimbelpun tidak ada hasil apa-apa. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar kuliah Non-Reguler di satu-satunya Universitas Negeri tempat saya lahir. Lolos sih, tapi tidak membuat orang tua saya bangga. Biaya SPP yang mahal. Biaya pergaulan yang selalu minta, marah jika tidak diberi.
Satu tahun berikutnya saya ikut SNMPTN (tiba-tiba namanya berubah, tidak berarti apa-apa). Saya memilih jurusan yang sama dengan tahun sebelumnya, Teknik Elektro. Tanpa berharap lolos seleksi. Hanya iseng-iseng, kalau masuk Alhamdulillah. Dan ternyata saya lolos seleksi. Cukup membanggakan buat kedua orang tua saya. Setidaknya mengurangi beban kuliah dan uang nakal bisa makin bertambah. Semester 1 dan 2 merupakan masa mencekam dimana semua anak baru menganggap "masuk kandang macan kita". Buat saya tidak. Terlahir penuh kesombongan dalam diri, membuat saya tidak tunduk pada peraturan senior. Siapa sangka saya akan berkelahi dengan senior.
Hari demi hari. Minggu demi minggu. Bulan demi bulan. Kaki ini mampu menginjak semeseter 3 dengan IPK tidak mencapai 3. Kenapa? Nilai saya banyak yang mengulang karena pergi hangout, pacaran lintas fakultas, merupakan hal terpenting yang harus saya lakukan. Tidak dipungkiri, saya mencederai cita lulus dengan 4 tahun. Tak hanya itu, saya mencoba mengikuti organisasi kiri. Yang saya anggap, organisasi keren, saya masih bisa hidup hedonisme. Meninggalkan amanah di Himpunan Jurusan yang saat itu ditinggal para pimpinannya karena ego pribadi. Hanya 3 bulan saya bertahan di organisasi kiri. Bukan tidak betah. Tapi saya diselamatkan. Kenapa? Pola pikir saya diubah. Bagaimana mencintai organisasi dijalan yang benar menurut logika saya. Saya kembali ke Himpunan untuk membantu organisasi ini tetap jalan. Dia, sang Ketua Himpunan, yang mampu merubah pola pikir saya. Kata demi kata yang dia ucapkan masuk ke dalam pori-pori kemudian diterjemahkan ke otak saya dengan baik. Hedonisme? Tetap. Berkurang? Iya. Siapa sangka saya akan menjadi Ketua Pelaksana Malam Keakraban. Nyaris di Drop Out. Tapi, saya banyak mengenal kehidupan sosial yang harus dilakukan setiap insan manusia. Bagaimana dengan IPK? Jangan heran, IPK saya tetap. Saya masih suka menyepelekan mata kuliah.
Memasuki semester 5 saya tidak mempunyai keinginan untuk mecalonkan diri menjadi Ketua Himpunan. Tapi saya dicalonkan menjadi Wakil Ketua Himpunan dari Organisasi Kiri yang dulu saya tapaki. Tenang saja, dalam pemilihan saya kalah. Saya tidak terlalu mengharapkannya. Apakah saya masih ikut organisasi? Iya.
Khotibul Umam Fahmi, disapa
Umam, Mantan Ketua Himpunan, Orang yang membawa saya menemui logika baik saya meminta saya untuk ikut bersamanya di BEM Universitas. Dia menjadi menteri, saya menjadi stafnya. Di waktu inilah, perubahan besar dalam hidup saya berubah. Mengejar nilai-nilai saya yang tertinggal. Alhasil mata kuliah tidak ada yang mengulang dan IPK naik drastis di atas 3,xx. Bagaimana dengan organisasi? Sangat lancar. Menjadi ketua pelaksana dalam rangkaian acara Ramadhan. Wakil ketua pelaksana dalam pengabdian masyarakat. Salah satu staf yang sangat diandalkan. Sebagai delegasi ke Batam dalam acara yang diadakan Kemenpora. Itu baru di Bem Universitas. Lantas bagaimana di Himpunan? Awalnya saya menjadi anggota biasa. Lalu 2 bulan sebelum kepengurusan demisioner saya diangkat menjadi Kepala Departemen Kominfo menggantikan Kepala Departemen sebelumnya. Dalam satu tahun, dua organisasi saya geluti. Kehidupan mahasiswa yang sangat menarik. Yang tidak saya sangka. Begitu saya sangat mencintai organisasi dan kuliah. Setelah demisioner dari kepengurusan. Saya dapat mengikuti KKN bersama teman-teman angkatan saya yang tegolong rajin. Bahkan saya berpikir untuk tidak mengikuti kembali jejak Umam, untuk kembali ke Bem Universitas. Saya hanya menginginkan meneruskan cita saya untuk lulus dalam 4 tahun.
Namun, saya diplot oleh Umam untuk menjadi salah satu kepala dinas di Bem Fakultas. Awalnya tidak ingin, tapi mau tidak mau, harus saya terima karena "Amanah tidak bisa ditolak, tidak bisa juga diminta". Amanah ini hanya berlangsung selama satu tahun dan kemudian saya berniat untuk lulus cepat tidak mungkin 4 tahun karena sudah lewat. Selain itu saya juga menjadi asisten laboratorium. Berakhirnya kepengurusan di BEM Fakultas, berakhir juga semester 8. Saya berencana melanjutkan cita-cita saya dan orang tua. Tapi lagi-lagi, saya mendapat amanah dari Presiden Mahasiswa terpilih. Saya menolak. Lagi-lagi, Umam, yang membujuk saya untuk menerima amanah tersebut karena permintaan Presiden Mahasiswa. Entah kenapa saya tidak bisa menolak permintaan dari sahabat dan guru saya ini. Saya menerima amanah menjadi Menteri Luar Negeri selama setahun. Cita-cita untuk lulus? Berjalannya organisasi membawa saya bisa membagi waktu untuk melaksanakan skripsi. Saya bisa melaksanakan seminar usul di semester 10. Semester yang menyelesaikan organisasi juga. Tidak banyak sejarah yang bisa saya catat saat itu. Hanya menjadi Ketua Pengawas Eksternal Seleksi CPNSD Kemenkumham 2012 Lampung dengan SK yang ditandatangani Menkumham dan kembali menggaungkan nama Aliansi BEM yang sempat hilang.
Menyelesaikan organisasi membuat saya kembali meneruskan skripsi saya yang saya tunda beberapa bulan. Namun, ditengah perjalanan saya cekcok dengan ayah. Beliau selalu menanyakan kapan saya akan menyelesaikan skripsi. Kuping terasa panas mendengar kata-kata dari ayah adalah sebuah ketidaknyamanan berada dalam rumah. Sampai akhirnya ayah saya tidak mau membantu mendanai skripsi saya. Saya putar otak bagaimana caranya menyelesaikan skripsi saya tanpa bantuan ayah saya sedangkan saya membutuhkan dana banyak. Tawaran dari Dosen, yang dulu saya sebagai asistennya datang. Beliau meminta saya untuk antar jemput anaknya. Namun, honor tiap bulan yang saya terima tidak cukup untuk membantu saya. Saya meminjam uang uni untuk menyelesaikan skripsi. Di saat saya sedang di Jakarta, sedang membeli salah satu alat. Saya mendapat telpon dari sahabat saya, Umam.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Lagi dimana Gi?"
"Lagi di Jakarta, ada apa?"
"Kapan pulang? Ini ada tawaran gabung di kantor. Lumayan untuk menyelesaikan skripsi"
"Lusa mam"
"Ok ditunggu ya"
"OK"
Percakapan singkat, namun penuh makna. Membuat saya terjun ke dunia politik sungguhan. Bukan daftar sebagai Caleg. Melainkan menjadi Tim Sukses salah satu Calon Gubernur di propinsi saya. Dua minggu bekerja menghasilkan pundi-pundi yang cukup untuk menyelesaikan skripsi, tapi lagi-lagi harus tertunda karena ditawari sebagai karyawan tetap dan melanjutkan menjadi Timses sampai tahapan akhir. Dunia politik sebenernya dunia yang saya benci. Awalnya malas untuk berorganisasi. Dianggap mampu, kemudian diberi amanah. Sampai akhirnya menapaki jalan politik yang sebenarnya.
Teringat kata-kata guru SMP yang mengaku dirinya seorang peramal "kamu besar nanti akan jadi seorang pejabat". Teringat sepotong kalimat dari guru SMA saat perpisahan "udah kayak pejabat aja tampilan kamu". Masa depan tidak akan ada yang tau seperti apa. Tapi, saya tidak memiliki cita menjadi seorang pejabat karena saya tau bagaimana caranya untuk menjadi pejabat. Saya takut tidak amanah jika itu takdir saya.
Umam, bukan cuma sekedar teman, iya seperti sahabat, keluarga, bahkan guru. Dia yang mengajarkan saya untuk amanah dengan apa yang diberikan. Mengajari saya bertanggung jawab. Walaupun saat saya menyelesaikan tulisan ini saya belum wisuda juga. Banyak yang bilang untuk urusan ini saya tidak bisa bertanggung jawab. Tapi saya punya jawaban tersendiri. Jika saya wisuda tepat waktu, saya tidak bisa mendapatkan pengalaman hidup yang berarti seperti ini. Ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Umamlah yang mengajarkan hidup ini adalah sebuah pilihan. Tergantung bagaimana kita bisa bertanggung jawab. Tanpa disadari, Umam juga telah membawa saya bisa lebih dekat dengan Tuhan saya, Allah SWT. Umam orang yang punya pendirian tetap. Penyabar, selalu menjadi penengah saat terjadi konflik, dan dia akan jujur jika tidak ada yang disukainya. Saya percaya, dia mampu mewujudkan cita dan cintanya. Terima kasih atas Hidayah yang Allah berikan melalui dirimu sahabat. Terima kasih atas ilmu dan pengalaman yang sangat bermnafaat ini.